Novel Beautiful Maid PDF Full Episode Gratis

Novel Beautiful Maid

Baca Novel Beautiful Maid PDF Full Episode Gratis – Novel adalah karya sastra yang selalu di minati. Membaca novel memang menjadi kegemaran tersendiri alias hobi bagi sebagian orang. Selain bisa menambah wawasan dan pengetahuan, novel ini juga bisa menghilangkan kebosanan dikala sedang sendiri atau dimasa-masa PPKM seperti sekarang ini.

Baca Juga:

Kini membaca novel dapat dilakukan dengan mudah baik melalui situs ataupun aplikasi penyedia novel digital secara online baik yang berbayar ataupun gratis.

Banyak sekali aplikasi baca novel online yang bisa dipakai untuk membaca novel secara gratis, beberapa aplikasi yang bisa Anda gunakan untuk membaca novel online diantaranya adalah MangaToon, Fictum, Hotbuku, Hinovel, GoNovel, NovelMe, NovelToon, Wattpad, Dreame, WeRead, Innovel, Novelaku, Novel Plus dan lain sebagainya.

Sekarang ini novel yang baru-baru ini trending dan diburu para penggemar novel berjudul Beautiful Maid. Jika Anda belum membaca novel terpopuler ini, maka untuk dapat membaca Novel Beautiful Maid PDF Lengkap hingga Full Episode, Anda bisa simak pembahasan dibawah ini.

Oleh karena itu, Kali ini Horu akan membagikan link dan cara baca Novel Beautiful Maid PDF Full Episode By Queena A lengkap dan gratis.

Deskripsi Novel

  • Judul: Beautiful Maid
  • Penulis: Queena A
  • Penerbit: NovelMe
  • Genre: Adult Romance
  • Rating: 10.0 (Sangat Bagus)

Novel Beautiful Maid

Jika Anda tertarik untuk membaca Novel terbaru ini, maka cobalah simak terlebih dahulu sinopsis Novel Beautiful Maid full episode dibawah ini:

Baca Juga: Novel After Darkness PDF Full Episode Gratis

Ziva Swastika, seorang asisten rumah tangga yang kehidupannya berubah 180° setelah terjebak one night stand dengan majikannya. Mirisnya, meski menjadi korban, ia justru dianggap sebagai pelaku yang telah menjebak tuannya.

Mars Kenzie Alvaro, hanya karena mabuk dan frustrasi melihat calon istrinya berselingkuh, tanpa sadar ia meniduri Ziva. Tentu Mars marah, ia bahkan menganggap Ziva sebagai pembawa sial di hidupnya.

Permasalahan semakin rumit, apalagi ketika Ziva memberikan sebuah benda bergaris dua merah kepada Mars.

Ya …, akibat perbuatan Mars, Ziva positif hamil.

Mampukah Ziva bertahan dari setiap permasalahan yang ia alami? Dan bersediakah Mars bertanggungjawab? Ikuti terus kisah mereka ya!

***

Anda Salah Orang, Tuan!

“J–Jangan Tuan, tolong lepaskan tanganku!” ucap Ziva dengan suara yang cukup tinggi. Tangannya terus meronta ketika Mars menyeretnya menuju kamar di ujung lorong.
“Diam! Aku akan membalas dendam karena kamu sudah berani mengkhianatiku!” tukas Mars. Langkahnya cukup cepat meski tubuhnya sempoyongan karena baru saja menenggak minuman keras.
“Tuan salah orang! Aku bahkan tidak tahu-menahu dengan apa yang terjadi padamu,” balas Ziva. Air mata sudah menganak sungai di pipinya.
Tangisan Ziva seolah menjadi nyanyian indah bagi Mars yang saat ini sedang kalap karena emosi sekaligus pengaruh minuman keras. Mars yang sejak dulu tidak menyukai kehadiran Ziva di rumahnya, kini justru menyeret gadis tersebut menuju kamar miliknya.
Ya …, karena pengaruh minuman keras Mars menganggap jika Ziva adalah calon istrinya yang sudah berkhianat.
Hari ini, tepat satu minggu menjelang pernikahan, Mars dikejutkan dengan sebuah fakta yang cukup menyakitkan. Calon istri yang amat ia cintai, justru berkhianat dengan adik tirinya sendiri.
Siang tadi ketika Mars berencana ingin membuat kejutan. Dirinya justru dibuat tercengang saat melihat calon istrinya tengah bercinta dengan adik tirinya sendiri.
Perasaan benci sekaligus frustrasi semakin membuncah di hati Mars. Terlebih lagi ketika Mars tahu jika diam-diam keluarga papanya sudah mengetahui hubungan terlarang keduanya.
“Jangan berpura-pura bodoh dan tidak tahu! Sial, bukankah siang tadi kamu sangat menikmati tubuh adikku? Sekarang saatnya kamu memuaskan tubuhku,” bisik Mars. Aroma alkohol tercium begitu kuat oleh Ziva.
“Tidak! Jangan lakukan itu, Tuan! Aku tidak melakukan apapun dengan adikmu. Kamu salah orang, Tu—” Ucapan Ziva terhenti ketika Mars mendorongnya hingga memasuki sebuah kamar.
Bagai orang kesetanan, Mars menatap tajam wajah polos dan ketakutan Ziva. Namun, karena mabuk Mars menjadi tidak bisa membedakan antara Ziva dan juga calon istrinya.
Bagi Mars, saat ini dirinya sedang berhadapan dengan calon istrinya. Sementara bagi Ziva, saat ini dirinya sedang berhadapan dengan iblis kejam yang sedang merasuki jiwa Mars.
“Aku tidak suka saat ada yang berani menolak perkataanku,” kata Mars. Ia memerangkap tubuh Ziva dengan kedua tangannya.
“T–Tapi apa salahku, Tuan? Kenapa kamu melakukan hal ini?” tanya Ziva. Tangannya mengepal kuat, ia terus mendorong tubuh Mars agar menjauh. Namun, hasilnya sia-sia.
“Salahmu? Cih! Apa kamu tidak ingat dengan apa yang sudah kamu lakukan padaku, ha?” bentak Mars. Nada suaranya meninggi, membuat Ziva reflek menundukkan kepalanya.
“Tuan salah orang! Sungguh, aku hanya berniat menolong Tuan yang sedang mabuk. Tapi kenapa Tuan justru melakukan ini padaku?”
Ziva tergugu, bahunya bergetar hebat karena menahan tangis sekaligus perasaan takut. Beberapa waktu lalu, Ziva tidak sengaja melihat Mars dalam kondisi sempoyongan karena mabuk. Oleh karena merasa iba, ia pun memutuskan untuk membantu Mars.
Awalnya, Mars menyambut baik niat Ziva. Namun, beberapa saat kemudian Mars justru meracau dan mengumpat. Hingga akhirnya, Mars menjadi lepas kendali dan menganggap jika Ziva adalah calon istrinya yang sudah berkhianat.
“Jangan bicara omong kosong, Jalang! Mulai detik ini, kamu akan menyesal karena sudah menghancurkanku,” lirih Mars. Suaranya mengalun rendah dan penuh akan ancaman di telinga Ziva.
Ziva menggeleng kuat, matanya terpejam erat. Ia memberontak, tetapi Mars justru menekan kedua kakinya dengan kakinya sendiri. Selain itu, Mars juga mencekal kedua pergelangan tangan Ziva ke atas kepala.
Ziva menggelengkan kepalanya kuat. Meski tangan dan kakinya terasa begitu sakit, tetapi Ziva tetap mencoba memberontak. Napasnya kini semakin tersengal. Begitu pula dengan detak jantungnya yang semakin menggila.
“Aku bukan jalang, Tuan! Aku ini Ziva, sungguh aku tidak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan. Aku mohon sadarlah, Tuan!” kata Ziva.
Mars tidak mengatakan apapun. Emosi dan halusinasinya semakin tidak terkendali, kini dirinya justru sibuk mencecap rasa yang ada di leher Ziva. Nafsunya seolah membara, hingga tanpa sadar Mars mengigit leher Ziva hingga menimbulkan bercak kemerahan.
Ziva merintih, rasa perih sontak menjalar di area leher jenjangnya. “J–Jangan Tu—” Ziva membelalakan matanya, ia mencoba melepaskan diri ketika Mars melumat bibirnya dengan paksa.
Namun, tentu saja kekuatan Ziva terlalu lemah jika dibandingkan dengan Mars. Mendapatkan perlawanan dari Ziva, alih-alih berhenti Mars justru semakin memperdalam lumatannya.
Mars tersenyum simpul setelah melepaskan tautan bibirnya dengan Ziva. Tatapan matanya begitu sayu, seolah berkabut akan gairah yang semakin membara. “Padahal sebentar lagi kita menikah. Apa kamu sudah tidak bisa menahan diri hingga tega tidur dengan adikku sendiri, hm?”
Deg!
Jantung Ziva seolah terlepas dari rongganya ketika mendengar ucapan Mars. Matanya membelalak lebar, perlahan tapi pasti ia mulai menyadari sesuatu.
‘Ini salah. Tuan Mars mabuk dan mengira jika aku adalah calon istrinya. Aku harus segera menghentikan ini. Tapi bagaimana caranya?’ batin Ziva. Ia menelan salivanya susah payah ketika tangan Mars mulai membuka kancing bajunya satu per satu.
“Hentikan, Tuan! Ini semua salah paham! Tuan sedang mabuk dan berhalusinasi. Aku ini bukan calon istrimu, aku Ziva!” tukas Ziva. Nada suaranya mengalun tinggi, ia berharap agar Mars segera tersadar.
“Cukup! Aku tidak membutuhkan perkataanmu lagi! Sekarang nikmati saja semua ini. Bukankah kamu sangat menginginkannya hingga tidak tahan dan akhirnya tidur dengan adikku, hm?” Mars menyeringai, dengan satu gerakan cepat dirinya berhasil merobek pakaian yang dikenakan oleh Ziva.
Napas Ziva tercekat. Matanya membeliak dan air mata semakin mengalir deras membasahi pipinya. Ziva takut, dirinya benar-benar sedang berada diambang kehancuran.
Meski memberontak dan berteriak sekuat tenaga, tetapi semuanya berakhir sia-sia. Selain karena Mars yang sedang mabuk dan emosi, semua orang di rumah pun sudah tertidur pulas karena malam sudah larut. Ditambah lagi, kamar Mars pun kedap suara.
“Sudah berapa kali dia menyentuhmu?” tanya Mars sembari memainkan tangannya di tubuh bagian atas Ziva. Mars menggeram tertahan ketika hasratnya semakin menggelora.
Ziva menggeleng kuat. Ia tidak peduli meski kepalanya membentur dinding yang bersinggungan langsung dengan punggungnya.
“Kamu tidak mau menjawab? Ah atau jangan-jangan dia sudah menyentuhmu berkali-kali?” Tatapan mars semakin dingin dan tajam. Namun, cekalan tangannya kepada Ziva mulai melonggar.
Merasa mendapatkan kesempatan yang sangat bagus. Ziva lantas menepis tangan Mars dan mendorongnya. Mars mengerang tertahan saat dirinya tidak sengaja membentur ujung meja. Matanya berkilat semakin tajam, seolah-olah kemarahan telah berhasil menguasai jiwanya.
Ziva tidak mampu lagi berpikir jernih. Saat ini, tujuannya hanya satu yaitu segera kabur dari kamar Mars yang terasa begitu mencekam.
“Kenapa pintunya sangat jauh?” ujar Ziva. Air matanya tidak kunjung reda. Kakinya terasa begitu lelah sedangkan letak pintu seolah begitu jauh darinya.
“Kamu tidak akan pernah bisa keluar dari sini!” ucap Mars yang kini sudah berada tepat di belakang Ziva.
Mars menarik Ziva yang sudah berhasil meraih handle pintu. Tanpa basa-basi lagi, Mars menggendong Ziva kemudian menjatuhkannya tepat di atas ranjang.
“Tuan, aku mohon lepaskan aku!” Ziva menangis, ia bergerak menjauhi ranjang. Namun, dengan sigap Mars menarik kedua kakinya.
“Diam! Jangan sampai aku melakukan kekerasan padamu!” kata Mars. Matanya semakin gelap oleh emosi dan juga nafsu yang bercampur menjadi satu.
“Tolong! Tolong! Tolong!”
Ziva mencoba berteriak untuk meminta tolong. Namun, sayangnya ia tidak berhasil mendapatkan bantuan. Alih-alih bantuan, kini ia justru sudah berada di bawah kungkungan tubuh kekar Mars.
Pandangan keduanya bertemu. Ziva semakin tidak berdaya ketika jemari Mars mulai menari-nari di area dadanya. Ziva memejamkan matanya erat. Bibirnya terus berdoa agar ada seseorang yang datang menolongnya.
“Jangan lakukan ini, Tuan! Aku mohon padamu. Tolong sadar dan mengerti lah! Aku ini Ziva, bukan kekasihmu,” kata Ziva. Suaranya terdengar begitu lirih. Selain karena sudah mulai kehabisan tenaga, Ziva juga sudah tidak mampu lagi bersuara keras. Pita suaranya terasa sakit sebab sedari tadi ia terus berteriak meminta tolong.
Mars terdiam, tangannya yang sedang memilin puncak dada Ziva terhenti. Tatapan Mars kini tertuju pada kedua manik mata gadis yang berada di bawahnya.
Mars mengerang sembari memegangi kepalanya. Ia memejamkan mata beberapa saat kemudian kembali menatap Ziva.
Vera tersenyum tipis, hatinya merasa begitu lega. Ia pikir Mars sudah kembali sadar dan mengenali dirinya. Namun, dugaannya salah besar. Jangankan sadar, Mars jsutru semakin ganas mempermainkan setiap inci tubuhnya. Bahkan, kini Mars pun sudah melepaskan celana yang ia pakai.
Dugh! Dugh!
Ziva kembali memberontak, ia memukul punggung Mars sekuat tenaga. Kakinya pun tidak tinggal diam, Ziva mencoba menendang tubuh Mars yang bisa ia kenai.
Plak!
Satu tamparan keras berhasil mengenai pipi kiri Ziva. Akibatnya, Ziva terdiam dan matanya mendadak menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Tubuh, hati, dan juga pikiran Ziva benar-benar terguncang hingga dirinya tidak mampu lagi untuk memberontak.
“Diam, Sayang. Bukankah siang tadi kamu sangat menikmati hal seperti ini? Jadi ayo kita lakukan sampai kamu benar-benar puas,” bisik Mars. Suaranya mengalun rendah di samping telinga Ziva.
Mars tersenyum tipis, tangannya terangkat kemudian mulai menyentuh setiap titik sensitif Ziva. Pancaran mata Mars semakin sayu. Seolah gairahnya tengah membuncah ruah.
Kali ini tidak ada lagi perlawanan berarti dari Ziva. Gadis itu hanya terdiam dengan mata yang menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Namun, air mata dan juga isak tangis semakin mendominasi ruang kamar Mars.
“Sudah hentikan, Tuan! Jangan merusak masa depanku,” kata Ziva. Sekali lagi, dengan sekuat tenaga Ziva mencoba memberontak. Ia bergerak tidak karuan sembari mendorong tubuh Mars.
“Perempuan gila!” desis Mars. Ia mencekal pergelangan tangan Ziva kemudian merentangkan kaki Ziva. Mars menyeringai, senyum kejam yang selama ini ia sembunyikan kembali terukir, “Inilah balasan karena kamu sudah mengkhianati diriku!”
“Argh! S–Sakit, Tuan!” Ziva memejamkan mata, air matanya semakin membuncah tepat ketika Mars berhasil merenggut kesuciannya.
Mars terhenyak, ia—

Baca Novel Beautiful Maid Full Episode

Penasaran kisah cerita selanjutnya? Novel ini adalah sebuah novel terpopuler dan paling banyak dicari oleh para penggemar novel. Untuk membaca novel Beautiful Maid Full Episode, Anda bisa install melalui aplikasi Novelme yang bisa Anda unduh dari Play Store ataupun App Store.

Lalu setelah aplikasinya terpasang di Smartphone Anda, maka silahkan Anda cari di kolom pencarian dengan cara memasukkan judul Lengkap “Beautiful Maid” atau Anda dapat mengklik tautan dibawah ini.

Link Baca Novel Beautiful Maid PDF Full Episode: Disini

Setelah Anda menekan tombol tautan yang telah Horu bagikan diatas, maka Anda bisa memulai membaca Novel Beautiful Maid PDF ini secara lengkap hingga full episode.

Baca Juga: Novel The Power of Love PDF Full Episode Gratis

Kesimpulan

Demikianlah ulasan lengkap dan menarik dari Horu tentang cara membaca novel Beautiful Maid PDF Gratis Lengkap Full Episode karya Queena A. Novel ini adalah sebuah novel terbaru yang banyak diburu dan dicari untuk dibaca oleh para pecinta novel.

Nah, bagaimana menurut Anda mengenai novel favorit ini? Benarkah cerita dari novel ini memang sangat seru untuk dibaca atau tidak? Silahkan berkomentar di kolom komentar dibawah. Selamat membaca!

Baca Juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *