Novel Bunga, I Love You PDF Full Episode Gratis

Novel Bunga, I Love You

Baca Novel Bunga, I Love You PDF Full Episode Gratis – Membaca novel memang menjadi kegemaran tersendiri alias hobi bagi sebagian orang. Selain bisa menambah wawasan dan pengetahuan, novel ini juga bisa menghilangkan kebosanan dikala sedang sendiri atau dimasa-masa PPKM seperti sekarang ini.

Baca Juga:

Kini membaca novel dapat dilakukan dengan mudah baik melalui situs ataupun aplikasi penyedia novel digital secara online baik yang berbayar ataupun gratis.

Banyak sekali aplikasi baca novel online yang bisa dipakai untuk membaca novel secara gratis, beberapa aplikasi yang bisa Anda gunakan untuk membaca novel online diantaranya adalah MangaToon, Fictum, Hotbuku, Hinovel, GoNovel, NovelMe, NovelToon, Wattpad, Dreame, WeRead, Innovel, Novelaku, Novel Plus dan lain sebagainya.

Sekarang ini novel yang baru-baru ini trending dan diburu para penggemar novel berjudul Bunga, I Love You. Jika Anda belum membaca novel terpopuler ini, maka untuk dapat membaca Novel Bunga, I Love You PDF Lengkap hingga Full Episode, Anda bisa simak pembahasan dibawah ini.

Oleh karena itu, Kali ini Horu akan membagikan link dan cara baca Novel Bunga, I Love You PDF Full Episode By Petrova lengkap dan gratis.

Deskripsi Novel

  • Judul: Bunga, I Love You
  • Penulis: Petrova
  • Penerbit: Innovel or Dreame
  • Genre: Romantis
  • Rating: –

Novel Bunga, I Love You

Bila Anda tertarik untuk membaca Novel terbaru ini, maka cobalah simak terlebih dahulu sinopsis novel Bunga, I Love You full episode:

Baca Juga: Novel Editor Hati PDF Full Episode Gratis

Mengandung cerita dan beberapa adegan dewasa 21+

Bunga adalah bunga desa di kampungnya yang terpaksa hijrah ke ibu kota untuk mengadu nasib. Karena himpitan ekonomi membuat ibu Bunga yang janda harus merelakan anak sulungnya bekerja jauh dari kampung.

Sesampainya di ibu kota, ternyata Bunga di jual oleh tetangganya sendiri dengan harga yang amat mahal karena masih perawan.

Ardy, lelaki tampan dan gagah anak pemilik beberapa perusahaan terkemuka dan terkenal dengan segudang harta dan aset berharga yang memiliki kelainan seksual. Menjadikannya seorang penyuka sesama jenis membuat kedua orang tuanya cemas. Karena lambat laun, berita mengenai penyimpangan Ardy itu tercium oleh relasi dan keluarga besar lainnya.

Membuat Andri Subargja, ayah Ardy memutuskan untuk mencari wanita bayaran untuk dijadikan istri Ardy agar Ardy terlihat sebagai lelaki normal.

***

Dan akhirnya pertemuan Andri Subargja dengan Bunga di klub malam, membuat Bunga dibeli oleh Andri Subargja. Untuk dinikahkan dengan anaknya yang gay.

Bunga gadis cantik dan lugu yang baru tiba dari desa itu menatapi dengan tatapan norak gedung-gedung bertingkat pencakar langit yang menjulang tinggi. Baru kali ini Bunga melihat dengan kedua matanya sendiri gedung-gedung besar seperti itu. Biasanya ia hanya melihat keramaian ibu Kota dari televisi.

“Pasti Ridwan seneng ya kang, kalo tadinya di ajak ikut sama kita,” kata Bunga tersenyum. Kedua matanya masih memandangi pemandangan jalan. Lalu lalang kendaraan bergerak dengan cepat. Langit berwarna orange keemasan sudah mulai terlihat. Pertanda hari sudah menjelang sore.

“Ya, nanti setelah kamu sukses bekerja di kota, kamu bisa ajak ibu dan adik kamu itu tinggal di sini,” kata Seno menyemangati Bunga.

Bunga tersenyum lebar dan nampak sangat bahagia. Harapannya sangat besar datang ke kota ini. Mengubah nasib keluarganya. Sesampainya di ibu kota, ia tidak ingin membuat ibunya kecewa dan menyia-nyiakan air mata ibu yang berderai deras ketika melepaskan kepergiannya bekerja di kota. Ridwan, adik Bunga pun tidak hentinya menangis sambil menyebut nama Bunga agar tetap tinggal di kampung.

Tapi desakan ekonomi semenjak sepeninggalnya ayah Bunga dengan hutang yang menumpuk, membuat ia harus membulatkan tekat untuk bekerja di ibu kota. Gaji yang besar, enam juta rupiah sebulan dengan bekerja sebagai pelayan membuat Bunga mau diajak bekerja ke ibu kota bersama Seno. Tetangga Bunga yang sejak kecil sudah dikenalnya.

“Masih jauh engga kang?” tanya Bunga sambil menatapi luar jendela. Hari sudah mulai sore dan akan menjelang malam.

“Engga sebentar lagi,” jawab Seno sambil tetap mengemudikan kendaraannya dengan fokus. Ia menatap ke arah depan jalanan.

Beberapa jam kemudian, saat hari telah gelap. Mobil yang dikemudikan Seno telah sampai di sebuah lokasi yang ramai dengan lampu-lampu warna warninya. Suara gemuruh musik yang nyaring terdengar hingga keluar. Banyak para wanita memakai pakaian sexy dan sangat akrab dengan para pria.

“Ayo turun,” kata Seno pada Bunga. “Sudah sampai.”

Bunga melihat ke arah gedung besar yang bertulis Club and Karoke di depannya. “Aku akan bekerja di sini kang?” tanya Bunga pada Seno yang sudah membuka pintu mobilnya.

Seno menganggukan kepalanya. “Iya, mangkanya cepat turun.”

Bunga percaya saja dengan apa yang dikatakan Seno. Ia pun turun dari dalam mobilnya sambil membawa tas koper yang dijinjing. Beberapa orang pria dan wanita menatap Bunga dengan tatapan aneh. Sekilas terdengar mereka berbisik-bisik, “Anak baru. Anak baru.”

Bunga berjalan menunduk, ia tidak percaya diri dengan menatap banyak mata yang sedang memandangnya.

“Kamu duduk di sana dulu ya. Akang mau cari Nyonya yang punya club ini,” kata Seno sambil menunjuk ke arah sofa sudut yang ada di ujung.

Bunga pun menurut. Ia hendak ke arah sofa yang ada di ujung sambil membawa tas ranselnya. “Tapi aku pasti kerja di sini kan?” tanya Bunga sebelum ia melangkah maju.

“Iya. Kamu pasti kerja di sini. Tenang aja. Pokoknya tunggu akang di sana. Kang Seno bakal balik lagi ke sini. Ini akang lagi nyari calon bos kamu,” kata Seno lagi.

Bunga menganggukan kepala mengerti dan berjalan menuju tempat yang tadi ditunjuk Seno. Bunga duduk manis di sana sambil melihat-lihat tempat yang kelak akan menjadi tempat kerjanya. Bunga berfikir ia akan bekerja sebagai pelayan di sini. Hanya membawa minuman dan makanan kepada pengunjung yang datang.

Tapi Bunga sedikit aneh dengan tempat yang kelak akan menjadi tempat kerjanya. Tempat ini menjual berbagai minuman beralkohol. Para pelayan pun sepertinya tidak terlihat. Hanya beberapa wanita dengan pakaian sexy sambil menemani pengunjung pria.

Belum lagi, Bunga melihat beberapa om-om genit yang mulai nampak menjijikan dengan menciumi leher dan juga mengelitiki seorang wanita berpakain sexy yang menemaninya. Membuat Bunga bergidik ngeri melihatnya.

Perasaan Bunga sudah tidak nyaman. Ia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, tidak terasa sudah hampir dua jam Seno tidak kembali lagi menemui Bunga. Entah kemana orang itu? Lama sekali mencari bos Bunga.

Bunga sudah gelisah. Perasaannya sudah tidak enak sejak tadi. Ia berdiri karena terlalu lelah menunggu dan berniat akan bertanya kepada orang-orang disekitar sini apa melihat Seno.

Belum juga kaki Bunga melangkah untuk mencari Seno dan bertanya pada orang-orang disekitarnya. Seorang wanita paruh baya, berwajah cantik, berkulit putih dan bertubuh sexy. Dengan pakaian yang sedikit terbuka dan mempertontonkan belahan di dadaanya berjalan menghampiri Bunga.

Bunga hampir ternganga melihat wanita itu. Karena di kampungnya, Bunga belum pernah melihat seorang wanita yang cantik, sexy dan memakai pakaian kurang bahan seperti itu. Di dalam hati ia berkata, ‘Apa wanita ini tidak masuk angin, memakai pakaian terbuka dengan belahan dadaa yang nampak terlihat?’

`Wanita yang menghampiri Bunga, kini memandangi Bunga dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia memastikan barang yang ia beli tidak cacat. Cantik, mulus dan setimpal.

“Hai Bunga…. Aku Hesti. Sekarang aku adalah Mami mu,” kata Hesti sambil menghembuskan asap rokok pada Bunga.

Setelah itu Hesti kembali menyesap sebatang rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan tengahnya. “Semoga kamu betah di sini dan jangan nakal. Ayo ikut Mami ke kamarmu. Malam ini kamu istirahat saja. Cape kan ya baru datang. Dan besok kamu harus siap bekerja ya cantik…” Hesti menyentuh dagu Bunga yang bagus berbelah dua.

“Mami?” tanya Bunga tidak mengerti. “Bukannya anda Bos saya ya?”

Hesti tertawa simpul. “Aduh kamu polos sekali Bunga. Sama seperti namanya, Bunga. Terdengar polos dan menggemaskan.”

`Bunga semakin merasakan perasaan tidak enak hati.

“Aku itu Mami kamu. Boleh sih kamu menganggap aku itu bos kamu. Karena aku udah membeli kamu. Tapi engga usah manggil aku bos juga. Panggil aku, Mami. Itu sudah cukup. Ayo sekarang ikut aku.”

Bunga masih berdiam diri. Ia tidak bergerak maju. Kakinya terasa berat melangkah. Ia memang gadis kampung, tapi ia tidak bodoh. ‘Mami?’ tanyanya di dalam hati.

Bunga menatap ke arah seluruh ruangan yang besar dan memiliki lampu penerangan yang redup. Suara musik pun mengalun sangat keras, membuat indra pendengaran Bunga berdengung. “Tunggu…! Tunggu…! Seno dimana?” tanyanya yang sudah mulai khawatir. Semoga saja apa yang difikirkannnya itu salah.

“Siapa? Seno?” tanya Hesti berbalik. “Pria yang bersamamu?”

Bunga menganggukan kepalanya.

Hesti mencibirkan bibirnya ke depan dan memasang ekspresi wajah sedih. “Seno sudah pulang dari tadi setelah menerima uang tiga ratus juta rupiah. Dia langsung pergi setelah menjualmu.”

“Apa??!!” seru Bunga tidak percaya. Tas jinjing berisikan pakaiannya pun jatuh ke bawah.

‘Tidak! Ini tidak mungkin! Tidak mungkin kang Seno, tetangga yang sudah kuanggap kakak sendiri malah tega menjualku?’ pekik Bunga. Kata-katanya tidak dapat keluar. Suaranya hilang seketika. Lidahnya kelu untuk berucap.

Bunga syok dengan apa yang telah terjadi pada dirinya malam ini.

Syok telah dijual

Setelah mengetahui dirinya telah dijual. Bunga ingin kabur dari klub malam milik Hesti. Namun ternyata Hesti memiliki beberapa penjaga bodyguard yang sigap dan bertubuh kekar. Dua bodyguard itu langsung mengangkat Bunga ke dalam kamarnya. Mereka memaksa Bunga masuk ke dalam kamar dan melempar Bunga dengan kasar di atas kasur. Lalu dengan cepat mengunci Bunga dari luar kamar.

Bunga berteriak dan menangis. Menggedor pintu dengan kencang dan mengiba untuk dibiarkan lepas. Tapi para manusia-manusia itu seperti tidak punya hati. Mereka tidak memperdulikan teriakan Bunga dan tangisnya yang terdengar memilukan.

Bunga terduduk di atas lantai, bersandar pada pintu kamar yang telah dikunci dari luar. Ia menangis sejadi-jadinya. Meratapi nasibnya yang akan suram terjebak di dalam lembah p0rstitusi ini. Bunga teringat akan menelpon ibunya di kampung dan meminta pertolongan. Mencari ponsel di dalam tasnya. Sial! Ponsel Bunga tidak ada. Sepertinya Seno telah mengambil ponsel milik Bunga agar Bunga tidak dapat meminta tolong kepada siapa pun.

‘Sungguh baj1*gan Seno itu! Tega sekali dia menjualku….’

Tiga ratus juta! Harga dari tubuh Bunga yang masih perawan dengan wajah cantiknya. Bunga menangis kembali lebih kencang dari sebelumnya.

Beberapa jam berlalu, Bunga masih menangis. Hingga kedua matanya bengkak dan kepalanya sedikit pening. Terpaksa Bunga merayap ke arah tempat tidur untuk merebahkan tubuhnya yang telah lelah.

Bunga menatapi ruangan yang kata Hesti ini adalah kamar Bunga. Kamar ini tergolong bagus dan nyaman. Bahkan lebih baik dari kamar Bunga di rumahnya sendiri.

Bunga menarik selimut yang berada di ujung kakinya. Kemudian menarik ujung selimut itu ke depan dadanya. Bunga meringkuk di dalam selimut berwarna pink itu. Nafas Bunga masih tersendat akibat beberapa jam ia menangis.

Bunga memikirkan bagaimana nasibnya selanjutanya berada di rumah bordil ini. Ia terus berfikir hingga tertidur.

Bunga sangat lelah. Lelah hati, fikiran dan tubuhnya. Hingga ia ketiduran sampai pagi. Cahaya terang mulai menembus dari luar jendela. Sinar matahari masuk dari luar melalui kisi-kisi jendela kamar dan tirai yang sedikit terbuka.

Bunga merasa silau dengan cahaya itu, sehingga membuatnya terbangun. Bunga mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Merasakan cahaya yang menyorot itu tidak nyaman. Lalu terdengar suara sebuah kunci kamar yang akan terbuka.

Bunga terkejut dan langsung terduduk. Ia mempersiapkan diri untuk sebuah perlawan. Menanti seseorang yang akan masuk ke dalam kamarnya.

Pintu kamar terbuka, terlihat Hesti masuk ke dalam kamar Bunga dengan sebuah nampan berisikan banyak makanan dan juga segelas susu segar. “Pagi Bunga… Pasti kamu laper ya. Dari malem kamu belum makan. Nih makan, nanti sakit.” Hesti menaruh nampan berisikan makanan itu di atas meja. Di samping tempat tidur Bunga.

Bunga membuang mukanya. Tidak sudi ia melahap makanan haram dari rumah bordil ini.

Hesti tersenyum melihat wajah masam Bunga. Hesti mulai merayu Bunga dengan sikap lemah lembutnya dan suaranya yang merdu. “Bunga… Ayo makan. Sekarang kami adalah keluarga kamu.”

Bunga menatap Hesti dalam. “Aku hanya ingin pulang Tante… Tolong aku. Aku engga mau di sini. Aku hanya ingin bekerja.”

“Iya, kamu di sini juga bekerja. Malah kerjaan kamu itu gampang. Tinggal nemenin pelanggan. Sekali kencan, kamu akan dapat uang dari Mami dua juta. Sekali loh itu. Kalo dalam semalam kamu kencan dengan tiga pria, bisa enam juta kamu dapatnya. Kamu cantik dan polos. Masih muda. Pasti banyak sekali pelanggan yang menginginkanmu.” Hesti tersenyum.

Bunga yang sejak tadi sudah ingin menangis. Mendengar perkataan Hesti kini langsung mencurahkan tangisnya yang sudah tertahan sejak tadi.

Hesti mengusap air mata Bunga perlahan. “Jangan menangis. Terima saja takdirmu di sini.”

“Takdir?” Seru Bunga tidak terima dengan apa yang diucapkan Hesti. “Ini bukan takdir! Aku dijebak!”

“Itu urusanmu dengan Seno. Aku tidak tahu apa-apa. Ingat aku sudah membelimu tiga ratus juta. Nanti saat ada pelanggan yang menginginkanmu, tenang saja kamu pasti akan aku berikan uang juga. Kita keluarga di sini.”

Suara tangisan Bunga semakin menjadi. “Aku mohon… Aku ingin pulang. Pulangkan aku.”

Hesti memejamkan kedua matanya. Kesabarannya sudah mulai berkurang. Ia mulai risih dengan rengekan dari Bunga. “Dengar Bunga…!” Suara Hesti terdengar mulai meninggi. “Jika kamu ingin bebas dari sini. Kamu harus mengganti uang yang aku keluarkan untuk membeli kamu. Tiga ratus juta di kali dua. Jadi enam ratus juta! Apa kamu punya uang sebanyak itu? Dan jika kamu kabur dari sini. Ingat, aku tahu dimana tempat ibu dan adikmu tinggal. Jika kamu kabur. Mereka yang akan menjadi sasaranku.”

Mulut Bunga ternganga mendengarnya. Ia tidak menyangka jika kelak ia berusaha kabur dari sini, Ibu dan Ridwan akan celaka. “Tapi mereka membutuhkan aku. Mereka butuh untuk aku kirimkan uang.”

“Kirimkan uang? Gampang! Besok juga ibumu akan aku kirimkan uang. Asal kamu ingat, kamu tidak boleh kabur dan menceritakan perihal dirimu di tempat ini! Jika tidak… Bahkan kamu sendiri tidak akan pernah bisa membayangkannya.” Hesti menatap Bunga dengan tajam.

Nafas Bunga seakan terhenti. Ia terjepit.

*

Hesti memberikan waktu dua hari kepada Bunga untuk beradaptasi di tempatnya. Dua hari tanpa menerima tamu. Dan ini adalah hari ketiga, waktunya Bunga harus menerima tamu.

Malam ketiga Bunga di klub malam yang merangkap sebagai rumah bordil ini. Membuat Bunga nyaris ingin bunuh diri. Jika tidak ingat kepada ibu dan adiknya yang masih membutuhkannya.

Pasalnya, Bunga masih perawan. Belum ada pria yang menyentuhnya. Bahkan berciuman bibir saja, Bunga belum pernah. Bunga adalah gadis yang masih perawan dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Bahkan hatinya pun belum terjamah cinta seorang pria pun.

Bunga terduduk lesu di sofa sudut. Keramaian yang ada di sekitarnya tidak membuatnya bersemangat. Musik yang terdengar dari alunan dj yang menggema tidak dapat membuat Bunga bahagia.

Sejak sore, Hesti berkata jika sudah seorang pelanggan yang telah tertarik pada Bunga. Bahkan ia telah membeli Bunga dengan harga tinggi. Satu milyar, agar Bunga ikut bersamanya pulang.

Mendengar berita dari Hesti membuat perasaan Bunga amat sakit. Kini dirinya seperti sebuah barang yang diperjual belikan. Di lempar kesana kemari. Ini semua karena ulah Seno yang tidak punya hati. ‘Lihat saja, aku akan membalasmu, Seno!’

“Beruntungnya kamu Bunga… Baru tiga malam di sini, udah ada yang tertarik dan membelimu dengan mahal. Tenang, Mami engga serakah. Mami akan buatin kamu rekening dan transfer uang buat kamu tiga ratus juta.”

“Kenapa untuk aku sedikit sekali? Tiga ratus juta dari satu milyar?” ungkap Bunga tidak terima.

Dibeli oleh Andri Subargja

“Segitu juga udah banyak!” sahut Hesti degan nada ketus. “Tuh kan engga mau… Engga mau…. Sok suci. Tapi pas denger duit, tertarik juga kan….” Hesti tertawa sinis.

Bunga diam. Tidak terlalu menaggapi sindirian Hesti padanya.

“Sebentar lagi orang yang akan membelimu datang,” kata Hesti sambil memainkan ponselnya. Melihat pesan chat yang diberikan pada asisten dari pelanggan yang akan membeli Bunga. “Oia saat aku udah transfer jatah uang kamu. Kamu bisa beli ponsel baru. Jangan lupa hubungi Mami kalau ada apa-apa. Ingat bagaimana pun juga kita adalah keluarga.” Hesti mengedipkan mata sebelah kirinya.

Bunga tersenyum sinis melihatnya. ‘Keluarga?’

“Beruntung sekali kamu. Kamu dibeli oleh orang kaya dan berkedudukan. Dia sangat kaya.” Kata Hesti kembali. “Apa mungkin kamu akan dijadikan gundiknya ya?” Hesti menerka-nerka.

Mendengar kata gundik. Membuat Bunga menelan ludahnya. Ia tidak bisa membayangkan akan dijadikan wanita simpanan oleh seorang pria tua. Sungguh tragis nasib hidupnya.

Setelah agak lama menunggu akhirnya tamu penting yang bernama Andri Subargja itu pun datang. Hesti pun menyambut pria tua itu. Badannya memang tinggi. Tapi kepalanya yang sudah mengalami kerontokan rambut dengan sedikit botak di tengah. Juga dengan perut buncitnya yang maju ke depan. Membuat Bunga merasa jijik. Yang benar saja Bunga akan melepaskan keperawanannya dan menghabiskan malam pertamanya dengan pria tua seperti itu.

Impiannya menikah dengan seorang pria yang dicintainya. Menghabiskan malam pertama yang romantis dan penuh cinta telah kandas sudah. Air mata Bunga kembali menetes di kedua sudut matanya.

Andri Subargja melihat gerakan Bunga saat menyeka air mata yang menetes di kedua sudut matanya. Sejenak ia menatap lama gadis yang pantasnya menjadi putrinnya itu.

Teman-teman Bunga lainnya yang berada di sana menatap iri ke arah Bunga. Bunga merasa heran kenapa para wanita di sini iri padanya karena telah dibeli oleh pria tua seperti ini yang pantas menjadi ayahnya.

Setelah mengurusi pembayaran dan juga perjanjian pembelian atas Bunga. Akhirnya Bunga pergi di bawa oleh Andri. Pakaian Bunga yang masih sopan tidak seperti penjaja sex komersial lainnya, membuat Andri Subargja, pemilik perusahaan Furniture terbesar se-Asia Tenggara itu senang. Karena ia tidak salah memilih.

Bunga merasa tidak nyaman beberapa kali ditatap oleh pria tua yang duduk di sebelahnya. Bunga membuang mukanya ke arah samping. Melihat pemandangan di luar jendela. Lagi-lagi air mata Bunga menetes kembali dan membasahi pipinya. Dan kemudian Bunga menyeka air matanya itu dengan kasar.

Andri Subargja yang mengetahui Bunga menangis, memberikan selembar tissue pada Bunga. Bunga tidak ingin menoleh. Karena ia tidak ingin menatap wajah pria tua di sebelahnya. Tanpa menoleh, Bunga mengambil tisue yang diberikan oleh Andri Subargja. Bunga mengusap air matanya dengan kasar dengan tissue dan juga membuang ingusnya dengan suara yang tidak sopan.

Bukannya marah, Andri Subargja malah tertawa. Ia mencolek pundak Bunga agar Bunga mau menoleh dan menatap dirinya. Tapi Bunga pura-pura tidak merasa dicolek.

“Hai nak… Apa kamu takut sama aku?” tanya Andri Subargja dengan tawa renyahnya.

Mendengar suara lembut Andri Subargja dan sapaan ‘Nak’ padanya membuat Bunga sedikit luluh. Duduk Bunga kembali benar. Ia tidak lagi membelakangi Andri Subargja dan menatap ke arah jendela.

“Jangan takut,” kata Andri menenangkan. “Apa benar kamu baru datang dari kampung?”

Bunga menganggukan kepalanya pelan dan ingin menangis lagi. Rasanya ia ingin menceritakan pada Andri Subargja jika sebenarnya dirinya telah dijual dan Bunga menginginkan untuk pulang ke kampung. Tapi Bunga teringat akan ancaman yang dilontarkan Hesti padanya. Mengenai ibu dan adiknya di kampung yang akan menjadi sasaran kemurkaan Hesti jika Bunga menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Apakah ini pertama kalinya kamu berhubungan?” tanya Andri membuat tangis yang sejak tadi ditahan Bunga pecah.

Bunga menangis dan Andri yakin jika memang Bunga adalah gadis polos, lugu dan juga masih perawan seperti apa yang telah ia cari selama ini.

Andri mengusap punggung Bunga agar ia tenang.

Kelembutan sikap Andri sebenarnya membuat Bunga merasa tidak takut. Andri kebapakan dan menenangkan.

“Jangan takut. Aku membelimu bukan untuk diriku. Aku membelimu untuk anakku, Bunga….” Andri menjelaskan.

Perlahan tangis Bunga berhenti. Ia mendongakan wajahnya ke atas. Menatap Andri yang juga menatapnya. Tatapan Bunga seakan penuh tanya dan meminta penjelasan.

“Jadi begini Bunga… Aku membelimu untuk aku nikahkan degan anakku.”

“Apa nikah?” seru Bunga dengan kedua mata terbelalak.

“Iya, aku meminta kamu untuk menikah dengan anakku. Tolong buat dia bahagia dan berikan kami keturunan.” Kata Andri menjelaskan.

Bunga terdiam. Untuk beberapa saat ia terdiam. “Apa aku akan dijadikan istri kedua, karena istri pertamanya tidak bisa mengandung?”

Andri Subargja menatap Bunga dan kemudian tertawa. “Tidak. Anakku masih single. Hanya saja dia dingin terhadap wanita. Sehingga untuk mendapatkan pacar saja kesulitan. Apa lagi mendapatkan istri.”

Bunga masih berusaha menelaah apa yang sedang diceritakan Andri Subargja padanya. Walau sudah memikirkannya berulang-ulang, masih saja Bunga tidak mengerti dengan apa yang diceritakan oleh Andri.

Akhirnya mobil limosin hitam panjang yang dikemudikan seorang supir sampai juga pada sebuah rumah yang sangat besar. Gerbangnya pun tinggi dan besar dengan logo tulisan Subargja di depannya.

Bunga terkejut ada rumah yang luasnya bisa dihuni oleh tiga Rt. Rumah yang memiliki pilar-pilar kokoh dan besar di depannya. Rumah berlantai dua yang megah dan sangat besar.

“Kita sudah sampai,” kata Andri dengan ramah. “Kamu akan aku perkenalkan dengan anakku Ardy yang akan menjadi suamimu.”

Mendengar kata pernikahan dan suami membuat tangan Bunga gemetaran. Ia membawa tas jinjingnya dengan tangan berkeringat. Di dampingi Andri, Bunga masuk menuju ke dalam rumah. Pintu rumah pun tinggi dan besar nampak gagah.

Di dalam ruang keluarga sudah nampak seorang wanita sekitar umur empat puluh lima tahun atau lebih. Wajahnya masih cantik seperti masih kepala tiga. Wanita yang memakai dress bunga-bunga berwarna lembut dengan lipstik merah anggun tersenyum ke arah Bunga. Wanita yang diyakini Bunga sebagai istri Andri Subargja.

Di sebelah wanita itu duduk seorang pria yang nampak angkuh. Ia sama sekali tidak menoleh atau menunjukan wajahnya menatap ke arah Bunga. Dengan ekspresi malas-malasan, pria itu hanya sekilas menatap Bunga.

“Hai, ini Bunga. Seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya. Ada seorang wanita yang akan menjadi istri Ardy,” kata Andry Subargja mengenalkan kepada dua orang keluarganya.

Wanita yang sejak tadi tersenyum ke arah Bunga mengulurkan tangannya dan langsung menyalami Bunga. “Aku Angela. Istri dari Andri Subrgja. Mamanya Ardy yang akan menjadi ibu mertua kamu.”

Wajah Bunga melongo. Ia tertegun sejenak. “Jadi benar, aku dibeli untuk dinikahkan dengan anak dari Andri Subargja dan bukan untuk menjadi istri keduanya?”

Andri dan Angela menggelengkan kepalanya bersamaan.

“Tidak. Cukup kamu menjadi istri dari Andri. Menantu kami. Dan segeralah kalian memiliki anak,” kata Angela. Jelas, singkat dan padat.

Kedua mata Bunga membulat, ia menatap Ardy. Pria yang katanya akan menjadi suaminya itu. Tapi sepertinya Ardy tidak menyetujui rencana kedua orang tuanya. Karena sejak tadi Ardy selalu berusaha membuang muka ketika ditatap oleh Bunga.

Bersambung pada bab empat…

Bergabung dengan klan Subargja

“Ayo duduklah….” kata Andri Subargja mempersilahkan Bunga untuk duduk bersama di antara mereka bertiga.

Bunga pun duduk dengan bibir yang masih terkunci. Kedua tangannya memegang erat tali tas jinjing yang sejak tadi ia pegang. Bahkan tangannya seakan terus berkeringat.

“Ini Ardy….” kata Andri mengenalkan secara resmi putranya.

Bunga menatap ke arah Ardy yang tidak membalas tatap ke arahnya.

Ardy tetap membuang mukanya. Ia tidak tertarik dengan Bunga. Baginya Bunga hanya bunga di tepi jalan yang dipungut oleh sang ayah. Untuk apa ia tertarik dengan bunga liar yang banyak berserakan di luar sana?

Bunga menatap Ardy. Pria di depannya yang sesungguhnya sangat tampan. Bunga tidak pernah melihat pria setampan dan sekeren ini di kampungnya. Bahkan Suhendar, anak lurah kaya raya di kampungnya yang di gadang-gadang tampan dan paling rupawan di satu kampung dan kecamatan tidak berbanding dengan Ardy.

Kulitnya yang indah layaknya wanita. Sepertinya Ardy menyukai perawatan kulit. Wajahnya pun tampan yang hakiki. Hidungnya mancung, alisnya panjang berjajar lebat dan hitam pekat. Bibirnya yang bagus maskulin di tambah dengan rahang tegas. Semua itu menjadi satu kesatuan yang membingkai pahatan dari sang maha pencipta untuk Ardy.

Bunga sampai hampir menelan ludahnya ketika mengingat kalimat Andri Subargja yang mengatakan jika ia akan dinikahkan dengan anaknya, Ardy. Pria yang ada di hadapannya kini.

“Ardy….” tegur Andri yang tidak menyukai sikap anaknya yang nampak acuh tidak peduli kehadiran Bunga.

“Hm….” jawabnya berguman malas.

Angela menyenggol lengan Ardy, agar Ardy dapat menjaga sikapnya.

Angela merasa tidak nyaman dengan sikap Ardy. Ia pun takut jika suaminya akan murka kembali dengan sikap-sikap Ardy yang tidak jelas. Keputusan melanjutkan pendidikan di luar negeri, ternyata adalah keputusan yang salah. Sikap Ardy kini hampir semaunya dan sering membuat tuan besar di rumah megah ini murka.

Karena ibunya sudah menyikut lengannya dan membuat kode dengan mengedipkan sebelah matanya. Ardy terpaksa bersikap sedikit peduli dengan kedatangan Bunga ke rumahnya.

Ardy tersenyum walau terpaksa ke arah Bunga.

Bunga tidak membalas senyuman Ardy. Ia malah menundukan pandangannya ke bawah dan menatap ujung kakinya yang memakai sepatu butut dari kampung.

Melihat Bunga yang tidak membalas senyumannya dan malah menundukan pandangannya. Seakan tidak menghargai Ardy yang notabene adalah pria yang selalu di kejar-kejar wanita maupun pria.

Ardy menggerakan kembali senyum lebarnya yang tadi ke arah Bunga menjadi mengatupkan bibirnya. Bibir bagus itu rapat dan kembali menjual mahal sebuah senyumannya.

Andri memperhatikan sikap anak semata wayangnya itu. “Ardy….” panggil Andri Subargja dengan suaranya yang berat dan tegas.

“Iya Pi….” jawab Ardy lantang.

“Kita sudah membicarakan ini kan sebelumnya,” kata Andri Subargja mengingatkan.

Ardy menghela nafasnya panjang dan kemudian menghembuskannya perlahan. Rasanya keputusan yang akan ia ambil ini adalah keputusan yang buruk dan salah.

“Tidak ada pemaksaan ya di sini. Masih ingat kan apa yang sudah kita bicarakan?” tanya Andri Subargja sekali lagi.

Ardy menganggukan kepalanya lemah.

Bunga sedikit berani untuk melihat apa yang terjadi di depan matanya. Di lihat dari ekspresi wajah Ardy sepertinya Ardy terpaksa. Entah bapak dan anak ini sedang membicarakan apa. Bunga tidak mengerti.

“Ayo jawab. Papi ingin mendengar suara lantangmu. Katakan dengan jelas, iya atau tidak?” tanya Andri Subargja sekali lagi. Suara Andri terdengar nyaring, jelas dan tegas. Bahkan Bunga pun sampai terkejut dan sontak berdiri.

Angela melihat ke arah putra satu-satunya itu. Anak yang selalu ia sayangi penuh cinta dan selau memanjakannya. Hingga Ardy tumbuh menjadi pria yang kurang mandiri dan terlalu kalem, menurut sang Papi.

Angela mengedipkan kedua matanya, memberikan isyarat pada Ardy jika ia harus segara berucap dengan tegas dan menuruti apa yang di mau oleh Papinya itu.

“Iya Pi! Aku mau! Ini semua demi Papi!” sahut Ardy dengan suara lantang dan tegas.

Bunga yang mendengarnya sampai merasa jika ia sedang ada di tempat upacara bendera. Yang para pelaksana upacaranya selalu bersuara dengan lantang dan keras.

“Tidak ada pemaksaan ya! Ingat!” kata Andri mengingatkan lagi dan lagi.

“Iya Pi…. Tidak ada pemaksaan,” jawab Ardy tegas.

“Setelah ini pernikahan kalian akan diadakan seminggu lagi,” kata Andri Subargja dengan penuh keyakinan. Keputusannya tidak dapat di ganggu gugat. Di rumah besar dengan pilar-pilar megah dan besar ini hanya Andri Subargja lah pemegang keputusan sejati dan paling hakiki.

Bunga yang mendengar jika pernikahannya dengan Ardy, anak dari pemilik rumah besar ini akan dilaksanakan seminggu lagi, membuat Bunga terkejut. Mengapa keputusan pernikahannya sangat cepat? Dan pasti ibu dan Ridwan tidak dapat datang menghampiri.

Bunga yang tiba-tiba saja teringat dengan ibunya dan Ridwan membuatnya semakin sedih. Hatinya tersayat. Harusnya pernikahannya berlangsung sakral dengan didatangi oleh dua belah pihak keluarga. Bukan seperti ini….

“Baik Papi… Terserah Papi saja. Aku mengikuti Papi saja. Apa yang Papi putuskan untuk aku, maka itu semua adalah yang terbaik untukku,” kata Ardy yang sudah latihan berkali-kali untuk mengucapkan kalimat itu.

Beberapa hari yang lalu, Angela datang ke kamar Ardy. Lalu memaksa menyuruh putranya untuk menghafal kalimat sopan dan so sweet untuk Andri, Papinya. Angela tahu, walau Andri terlihat sangat galak, tegas dan tidak menyukai sifat Ardy yang terkadang terlalu lembut . Sebenarnya Andri sangat menyanyangi putra semata wayangnya itu.

“Kamu tidak ingin di coret dari harta warisan keluarga kan?” tanya Angela di waktu malam. Ia menyelinap ke dalam kamar Ardy hanya untuk menanyakan hal itu dan menyuruh Ardy untuk menuruti semua kemauan Papinya.

Ardy menggelengkan kepalanya cepat. “Tentu saja aku tidak mau di coret dari data warisan keluarga. Aneh. Kenapa aku harus di coret? Aku adalah anak satu-satunya. Harta dan aset Papi juga banyak. Jika bukan untuk aku, harta sebanyak ini di kemanakan?” tanya Ardy yang tidak percaya jika namanya akan di coret dari daftar penerima warisan, jika ia tidak menuruti apa kemauan Andri.

“Harta dan aset sebanyak ini akan di sumbangkan oleh Papimu jika kamu tetap bersikap bandel, engga nurut dan terlalu moderen! Kamu tahu sendiri kan jika Papi mu itu masih kentel adat ketimurannya?!” seru Angela mengingatkan.

“Iya aku tau Mi… Tapi untuk apa harta sebanyak ini di sumbangkan? Aku kan satu-satunya anak dari keluarga Subargja. Aneh sekali Papi itu….” sungut Ardy tidak mengerti dengan jalan fikiran Papinya.

“Ya, karena kamu adalah anak satu-satunya dari keluarga ini. Itu semua menjadi beban berat untuk kamu! Apa lagi dengan keadaanmu yang seperti sekarang….” kata Angela sambil berdecak kesal.

“Apa sih Mi… kalo ngomong engga usah berbelit. Aku engga ngerti….” gerutu Ardy yang juga merasa kesal.

Angela menatap tajam ke arah putra satu-satunya itu. “Karena kamu tidak menyukai wanita. Kamu sukanya dangan si Dendi itu! Itu semua membuat Papimu malu! Karena berita kamu sudah menyebar dimana-mana. Anak semata wayang Andri Subargja seorang gay!”

Ardy merapatkan bibirnya sejenak. Lalu beberapa detik kemudian mengumpat. “Sialan memang orang-orang engga ada kerjaan itu! Mereka malah menggosipiku.”

“Karena itu, Papimu sedang memilihkan wanita untuk kamu nikahi dan memberikan keluarga kita keturuan dari benihmu!” kata Angela memberitahu. “Ingat! Diamlah dan turuti semua kemauan Papimu itu!”

Suara Mami ketika malam itu masih terdengar di telinga Ardy. Ya, ia akan menuruti saja semua keinginan Andry Subargja. Ini semua demi harta dan asetnya. Ardy tidak ingin di coret dalam data penerima warisan keluarga.

Kedua mata Ardy menatap Bunga yang lagi-lagi tak berani membalas tatapannya.

Bersambung….

Ardy masuk ke dalam kamar mandi Bunga

Tidak ada cara selain menikah dengan Bunga, atau ia tidak akan mendapatkan harta keluarga seperak pun! Ardy sedang meratapi nasibnya.
Kedua mata Ardy terpejam membayangkan menjadi suami Bunga yang tampilan luarnya saja sudah norak dan kampungan. Bagaimana Ardy dapat mengakui gadis itu kelak adalah istrinya? Bisa-bisa seluruh teman-temannya akan menertawainya.
Ardy dan bunga liar? Ardy membayangkan sebutan-sebutan apa yang akan mereka sematkan padanya dan Bunga.
Ponsel Ardy yang ada di atas meja kamar bergetar. Ia langsung mengambil ponselnya itu dan membaca nama di layar ponsel. “Dendi.”
Wajah Ardy langsung terlihat berbinar ketika mengetahui siapa si penelpon. Dendi, kekasih Ardy.
*

Bunga diantarkan menuju kamarnya oleh salah seorang pembantu keluarga yang bernama Surtini. Tini terlihat baik dan sopan.
Mereka berjalan berdua menaiki anak-anak tangga dengan pinggiran pilar penyangga tangga yang kokoh.
Tadi Bunga melihat Ardy menaiki anak tangga ini lebih dahulu, sepertinya kamar Ardy dan Bunga ada di lantai atas.
Bunga masih tidak banyak bicara. Bibirnya masih terkunci. Kedua matanya lah yang menatapi ke arah kesekeliling rumah besar ini.
Langkah kaki Bunga berjalan mengikuti ke mana kaki Tini melangkah. Hingga Tini berhenti di depan sebuah pintu berwarna putih.
“Ini kamarnya neng….” kata Tini sambil membuka pintu kamar.
Bunga tersenyum pada Tini. “Makasih bi….”
“Saya kembali ke dapur dulu ya neng….” kata Tini pada Bunga.
Bunga menganggukan kepalanya. “Ya, tentu… Makasih ya bi.”
Tini membalas senyuman Bunga dan kemudian berjalan menjauh. Ia kembali lagi pada pekerjaannya.
Bunga melangkahkan masuk ke dalam kamarnya. Betapa terkejutnya Bunga ketika melihat isi dari ruangan yang telah menjadi kemarnya itu.
Perabotan mahal dan unik. Bergaya minimalis moderen bercampur klasik. Dengan cat dinding putih bercampur merah muda yang terang. Jendela kamar yang lebar. Hingga bintang yang bergemerlap di langit malam terlihat jelas dan indah dari sini.
Bunga terpukau dengan apa yang dilihatnya. Ia berjalan menuju ranjang besar dengan tiang kelambu warna putih bersih yang indah.
Jari-jari Bunga memegang kelambu itu dengan hati-hati. ‘Kamar yang nyaman dan indah,’ kata Bunga di dalam hatinya.
Ia duduk di tepian ranjang yang sangat empuk sekali di duduki. Bunga hampir tertawa ketika bokong yang menduduki kasur empuk itu langsung terjerembab di dalamnya.
Penyambutan dari keluarga Subargja yang hangat hingga melupakan kesedihan Bunga yang notabene menjadi barang dagangan.
Bunga menghela nafas panjang duduk di tepi ranjang sambil menatap jendela besar. Meratapi nasibnya yang kini berada di bawah tangan orang lain. Tatapannya lurus ke arah malam yang bersinar terang karena bintang-bintang yang bergemerlap.
Bunga bersiap untuk tidur saja. Karena entah apa yang akan terjadi esok hari. Semuanya masih menjadi misteri karena Bunga hanya sebagai pion di sini. Bunga harus tetap tegar dan mempersiapkan mental untuk esok hari.
Tapi walau begitu Bunga masih bersyukur karena ia tidak di jual untuk menemani lelaki hidung belang.
Ia berjalan kembali menuju kama

Baca Juga: Novel Menantu Penguasa PDF Full Episode Gratis

Selengkapnya silahkan Anda simak cara membaca novel bunga, i love you full episode dibawah ini!

Baca Novel Bunga, I Love You Full Episode

Penasaran kisah cerita selanjutnya? Novel Bunga, I Love You ini adalah sebuah novel terpopuler dan paling banyak dicari oleh para penggemar novel. Untuk membaca novel Bunga, I Love You Full Episode, Anda bisa install melalui aplikasi Innovel yang bisa Anda unduh dari Play Store ataupun App Store.

Lalu setelah aplikasinya terpasang di Smartphone Anda, maka silahkan Anda cari di kolom pencarian dengan cara memasukkan judul Lengkap “Bunga, I Love You” atau Anda dapat mengklik tautan dibawah ini.

Link Baca Novel Bunga, I Love You PDF Full Episode: Disini

Setelah Anda menekan tombol tautan yang telah Horu bagikan diatas, maka Anda bisa memulai membaca novel Bunga, I Love You PDF ini secara lengkap hingga full episode.

Baca Juga: Novel Om Bule Suamiku PDF Full Episode Gratis

Kesimpulan

Demikianlah ulasan lengkap dan menarik dari Horu tentang cara membaca novel Bunga, I Love You PDF Gratis Lengkap Full Episode karya Petrova. Novel ini adalah sebuah novel terbaru yang banyak diburu dan dicari untuk dibaca oleh para pecinta novel.

Nah, bagaimana menurut Anda mengenai novel favorit ini? Benarkah cerita dari novel ini memang sangat seru untuk dibaca atau tidak? Silahkan berkomentar di kolom komentar dibawah. Selamat membaca!

Baca Juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *